NEWS

Post Top Ad

Pastiin Dulu

Minggu, Agustus 26, 2012

Day 9

Day 9 - August 25, 2012 Hari ini kami meninggalkan Canada yang penuh kenangan. Empat hari lamanya kami menjelajah Canada mulai dari Niagara Falls, Toronto, Ottawa, Montreal, dan Quebec. Ribuan km dan puluhan jam kami lalui di atas bis 6 roda yang membawa kami dan dikemudikan oleh Mr. Young, imigran asal China. Hampir tiap hari kami duduk lebih dari 6 jam di atas jok bis. Boyok tua udah mulai protes dan pegel-pegel. Ambeien udah mulai nongol. Ha.... Orang tua emang udah banyak keluhannya ya. Dulu waktu muda fisik masih prima keluhan itu ndak bakalan muncul. Dari semua obyek wisata yang kami kunjungi di Canada, masing-masing punya kesan tersendiri. Niagara Falls sangat fantastis dan layak untuk dikunjungi ualng. Kalau saya ke sini lagi, pasti saya akan nginep lebih lama di Niagara City agar bisa lebih banyak explore local culture di kota kecil tersebut. Toronto mengesankan karena multi etnis dan terkenal dengan University of Torontonya. Dan tentu saja karena ada rekan senior yang tinggal di sana. Ottawa kotanya indah. Banyak bangunan tua yang belum sempat kami kunjungi kali ini. Tampaknya Ottawa juga cocok untuk study. Ngak tahu kenapa, saya kok merasa "aman" di Ottawa. Apalagi bahasa Inggris sebagai bahasa resmi masih dominan dipakai di Ottawa. Ndak ada kesan terlalu mendalam di Montreal. Mungkin gara-gara ndak banyak waktu yang dihabiskan untuk menjelajah Montreal walaupun kami nginep 2 hari di sono. Quebec sangat romantic. Kalau saya punya waktu lebih, pasti saya akan tinggal lebih lama di Quebec. Cuman masalah bahasa saja yang menjadi kendala. Sengaja saya memakai kaos pemberian Om Robert, senior FTJE yang sekarang menjadi warga negara Canada, sebagai ucapan terima kasih atas kehangatan penyambutannya selama kami ada di Toronto. Tepat pukul 9 pagi kami melewati jembatan panjang Jacques Cartier di atas sungai Saint Lawrence, yang menandai ucapan selamat tinggal Montreal. Kami menuju ke perbatasan Canada - US dan akan melanjutkan perjalanan menuju Boston. Dari simbah pintarku, Google, jarak antara Montreal - Boston adalah 493 km. Berarti menurut estimasi dan pengalamanku selama ini, akan dibutuhkan kira-kira 6 jam untuk mengadu pantat dengan jok kursi di bus. Paruh pertama perjalanan adalah menuju ke border dan dilanjutkan dari border ke Boston. Di dalam bus tour leader utama Steven mengumumkan bahwa 2 hari lalu terjadi lagi penembakan sporadis di New York yang menimbulkan 2 korban jiwa. Saya sendiri sudah sejak berangkat liburan ini belum melihat berita di TV. Dan di milis kesayangan FTJENET juga tumben beritanya belum muncul. Soal berulangnya kejadian penembakan ini membuat saya ingat soal theory imitasi (role model) yang pernah saya pelajari waktu saya mengambil studi S2 Kepolisian tahun 1999. Saat itu saya sedang membahas soal bunuh diri (suicide) sebagai salah satu bentuk deviant dan salah satu determinan dari peningkatan tingkat bunuh diri (suicide) adalah bila ada pelaku bunuh diri yang dilakukan "orang terkenal" atau yang di blow up cukup besar oleh media. Nah mungkin teori ini berlaku di kasus penembakan sporadis. Gara-gara blow up media yang berlebihan tentang penembakan sporadis ketika pemutaran perdana film Batman, maka muncul peristiwa sejenis dan berantai yang mengikutinya. He... Jadi ingat masa-masa kuliah di Pascasarjana Kajian Ilmu Kepolisian bersama rekan-rekan Polri dulu. Satu masa yang indah, penuh kebersamaan, yang saya rasakan manfaatnya sekarang. Saya menjadi anggota kerhormatan Batalyon Adhi Pradana Akpol 1988 B. Di samping cerita soal penembakan sporadis di New York, Steven juga cerita soal pengalaman bus yang dibobol di Boston. Maka dia mengingatkan agar semua barang diturunkan dan jangan ditinggal di bus saat check in hotel di Boston. Dia juga cerita soal pernah ada satu bus turis yang hilang pas check in di Itali. Ya bus berikut seluruh isinya hilang digondol maling. Aneh tapi nyata. Itali dan Spanyol emang terkenal soal kriminalitas seperti itu. Partner bisnis saya, Pak Hendra Purnomo, juga pernah dikadalin di Barcelona dan duit USD 1.000 melayang setelah pura-pura di cek ama penjahat yang mengaku sebagai Espana Policia. Untung saya cukup waspada dan ndak ikutan dikadalin. Dasar orang Jawa, sudah hilang duit masih bilang untung. Tepat sebelum masuk ke border kami berhenti di duty free shop. Banyak peserta tour yang membelanjakan CADnya. Saya sendiri hanya beli "ice wine" yang memang khas Canada dan satu buah kaos abu-abu bertuliskan Canada, kembaran ama Bekti. Melewati US border kami turun satu-persatu dan petugasnya mengecek pasport masing-masing. Satu rutinitas yang dulu hampir tiap bulan dua kali saya alami ketika masih bekerja di Overseas Business Development Dexa Medica. Banyak pengalaman "mengerikan" kalau masuk atau keluar ke negara-negara yang "weird" seperti Sudan, Yaman, Russia dan negara-negara lainnya. Yang paling "berkesan" adalah ketika aku dipalak terang-terangan sebesar USD 200 di Moscow. Waktu itu aku diminta menunjukkan duit yang aku bawa. Setelah mereka hitung dengan seksama, mereka ambil USD 200 sambil berkata dengan kalemnya, "For me". Saat itu aku protes dan malahan dimasukkan ke sebuah ruangan dan diinterogasi serta dituduh "You wanna spy on my country!!". Ha.... Lelucon apa lagi ini. Ya begitulah kenyataannya. Terpaksa USD 200 hilang lenyap ditelan kantong si petugas custom Russia. Makan siang kali ini ndak seperti biasanya. Emang di jadwal tour hari ini tidak termasuk makan siang. Ini adalah satu dari sedikit makan yang bayar sendiri. Ini satu keunggulan ATS di mana hampir seluruh makan sepanjang perjalanan sudah termasuk dalam tour. Sekaligus juga satu kelemahan, karena pilihan makan kita jadi sangat terbatas. Bila di suatu daerah ada makanan yang khas terpaksa ndak bisa nyobain karena waktu makan siang sangat terbatas. Saya pernah ikut tour Cosmos dan ambil rute Switzerland. Ratenya sendiri menurutku tergolong ndak terlalu mahal, tetapi emang banyak makan yang bolong. Di satu sisi sangat mengasyikkan karena bisa banyak sekali nyobain makanan yang khas dan terkenal. Tapi di sisi lain perlu budget tambahan buat makanan. Di Swiss sekali makan di resto yang cukup enak termasuk minum wine berdua rata-rata USD 150 - 200. Makan siang kali ini ndak ada pilihan, yaitu Mc Donald. Menurut tour leader sepanjang perjalanan dari border ke Boston ndak ada makanan enak, jadi satu-satunya pilihan adalah Mc D. Ya udah apa mau di kata, terpaksa mulut dijejelin double-double sandwich ama kentang goreng. Aku jadi tahu kalau makan Mc D di US ndak ada ayam goreng renyah, apalagi nasi, seperti di Jakarta. Adanya berbagai variasi sandwich, burger, sup, chicken naget, fish dan salat. Ada satu lagi yang berbeda di Mc D Amrik dibandingkan Jakarta, yaitu soal minuman. Saya pesen Coca Cola dan diberinya gelas stereoform sak gedhe gajah. Ternyata minumannya ambil sendiri dan boleh bolak balik refill sepuasnya. Makanya orang Amrik gedhe-gedhe, wong minumnya aja Coca Cola segedhe itu. Masih bolak-balik nambah lagi. Perjalanan dari Canada - US border di Vermont menuju ke Boston memakan waktu 3 jam. Kami sempat berhenti di rest area hanya untuk kencing dan rokokan dan langsung jalan lagi. Perjalanan 3 jam terasa sangat panjang karena badan udah pegel semua, terutama boyoknya. Tepat pukul 4 kami memasuki kota Boston dan langsung menuju ke Harvard. Boston adalah ibukota negara bagian Massachusetts dan merupakan kota terbesar di negara bagian ini, sekaligus adalah salah satu kota tertua di Amrik. Jumlah penduduk kotanya sendiri hanya 600 ribuan orang. Boston terkenal sebagai kota pendidikan bahkan sekolah negeri pertama di Amerika didirikan di kota Boston, yaitu Boston Latin School pada tahun 1635. Jelas saya belum lahir waktu itu. He.... Terdapat lebih dari 100 universitas dan colleges di wilayah seputaran Boston. Kalau di Indonesia mungkin mirip dengan Yogjakarta yang sangat terkenal sebagai kota pendidikan dengan UGM sebagai icon utamanya. Bedanya di Jogja biaya hidup relatif lebih murah dibandingkan kota besar lainnya di Indonesia, sedangkan biaya hidup di Boston adalah salah satu yang termahal di US. Konon Boston menempati rangking ketiga paling mahal di US. Icon kota Boston adalah keberadaan Harvard University dan MIT University serta Faneuil Hall, sebuah bangunan warna merah yang sekarang menjadi pusat pemerintahan di kota Boston. Majalah Forbes Traveler bahkan menempatkan Faneuil Hall di rangking 4 dari 25 tempat wisata yang paling dikunjungi di Amrik. Sayang saya ndak sempet foto-fotoan di bangunan tersebut karena keterbatasan waktu. Di samping itu Boston juga tercatat sebagai kota perjuangan kemerdekaan Amerika di mana di kota ini ada 2 peristiwa besar yang pernah terjadi, yaitu Boston Massacre dan Boston Tea Party. Boston Massacre adalah peristiwa pembantaian massal yang mengakibatkan 5 orang penduduk Boston meninggal dan puluhan orang luka-luka oleh tentara penjajah Inggris pada tahun 1770. Kejadian ini memicu kerusuhan masal dan pemberontakan masyarakat terhadap keberadaan pasukan Inggris di Boston. Yang kedua adalah Boston Tea Party yang merupakan protes politik yang dilakukan oleh warga Boston akibat diberlakukannya pajak atas komoditas teh yang diimport ke Boston pada tahun 1773. Protes itu dilakukan dengan membuang 3 kapal teh ke pelabuhan Boston dan ini juga menandai perjuangan revolusi Amerika sebelum berhasil merdeka tahun 1776. Tempat wisata pertama yang kami kunjungi di Boston adalah Harvard University yang terletak di kawasan Cambridge. Wow kali ini saya benar-benar secara harafiah masuk ke Harvard, suatu universitas tertua di Amerika. Harvard University didirikan oleh John Harvard pada tahun 1636 dan merupakan universitas yang memiliki financial endowment terbesar di dunia, yaitu sebesar Rp. 300 triliun rupiah. Wow..... Ndak heran karena ternyata 62 orang yang masuk kategori bilioner adalah alumni Harvard, di samping 8 Presiden Amerika juga alumni Harvard dan 75 pemenang Nobel dunia adalah alumni atau faculty dari universitas ini. Pada atas salah satu pintu gerbang Harvard terpajang patung yang bentuknya mirip Kepala Babi Hutan. Patung ini konon menurut penafsiran punya 2 arti, yang pertama adalah keliaran (keberanian) alumni dalam melakukan terobosan-terobosan yang jenius sehingga membawa kesuksesan. Arti kedua adalah orang-orang bodoh (babi itu identik dengan bodoh) ndak bakalan bisa masuk Harvard dan hanya akan sampai pintu gerbangnya aja. Untung saya tadi bisa "masuk", bahkan berfoto bersama patung John Harvard sambil mengelus-elus sepatunya yang sebelah kiri. Konon dipercaya bahwa kalau kepingin dirinya sendiri atau anaknya masuk Harvard yang terkenal maha sulit, maka harus mengelus sepatu John Harvard yang sebelah kiri. Ha.... Persis seperti orang memegang stupa di Candi Borobudur aja. Itulah makanya kenapa sepatu John Harvard yang sebelah kiri lebih kinclong dibandingkan dengan yang kanan, karena sudah puluhan ribu orang mengelus sepatu kiri tersebut. Toh ternyata tidak semua bisa masuk. Mungkin karena kepala babi hutan tadi kali ye. Menyaksikan suasana belajar di Harvard membuat saya pengin sekolah lagi. Bayangkan proses diskusi mengenai krisis hutang Eropa dilakukan sambil duduk santai 8 orang mahasiswa + 1 dosen di kursi di atas hamparan rumput hijau di bawah rindang daun. Sekelompok lainnya berdiskusi di pelataran gedung sambil duduk santai. Dosennya orang item masih muda dan berfungsi sebagai fasilitator. Saya sempat mengikuti diskusi tersebut sambil berkhayal untuk sekolah lagi ambil Post Doctoral di Harvard. Kalau mimpi ini tidak tercapai, ya akan saya realisasikan mimpi kedua, yaitu mengantarkan Gaby dan/atau Eugenia bersekolah di sini. Waktu saya katakan ke Gaby, dia bilang "Ndak mau ach Daddy, wong sekolahnya sulit. Ntar aku jadi student yang paling bego". Ha.... Satu kerendahan hati sekaligus kurang percaya diri. Sedangkan Eugenia langsung ngomong, "Yes Daddy, I will study here. I like the ambiance". Ho... Ho.... Ho.... Satu ekpresi kepercayaan diri yang juga harus diwaspadai mengarah ke kesombongan. Dua anakku emang punya karakter yang sangat berbeda. Yang besar, Gabriella, hatinya sangat lembut dan tutur katanya sangat humble. Berkali-kali selama di Primary School dia mendapatkan Certificate of the Best in Conduct di sekolahnya. Di balik kecantikan parasnya dia memiliki minat di bidang-bidang seni. Tapi dia ceroboh dan sulit sekali disuruh belajar. Penginnya maen aja. Akibatnya prestasi akademiknya hanya rata-rata. Si kecil, Eugenia, lebih percaya diri dan mudah bergaul dengan orang yang baru dikenalnya sekalipun, baik anak kecil, sebaya, maupun yang lebih tua. Semangat ingin tahunya sangat tinggi. Semalam dia baca-baca soal sejarah Harvard di ipad dan tanya-tanya hal yang dia ndak ngerti. Ndak perlu disuruh belajar, sudah otomatis tiap hari buka buku untuk mengerjakan PR dan mengulang pelajaran hari itu dan esoknya. Prestasi akademiknya termasuk one of the best in her level. Tapi wataknya keras seperti kepiting batu. Kalau Gabgab mungkin lebih cocok melanjutkan studi undergraduate school di bidang art atau business, aku rasa Eugenia akan lebih cocok di bidang yang lebih rumit seperti Medical Science. Ya itu sih harapanku sebagai orang tua. Aku dan ibunya hanya bisa mengarahkan aja. Semoga keputusan yang nantinya kami ambil berhasil meminimalisir resiko masa depannya. Yang jelas kami akan berusaha sekuat tenaga membekali mereka dengan pendidikan yang memadai untuk hidupnya. Saya percaya pada prinsip, "The Way is Education". Sepulang dari Harvard kami menyusuri Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang letaknya kira-kira 1 km dari kampus Harvard Cambridge. Bentuk gedung utamanya oval berwarna putih semacam kubah besar. Di kampus inilah banyak melahirkan para ilmuwan kelas wahid dunia. Sayang kami tidak punya kesempatan menjelalajah lebih lanjut ke MIT, jadi tidak banyak informasi yang bisa digali. Saya cuman membayangkan MIT itu mungkin mirip ITB di Bandung atau ITS di Surabaya. Dari situ kami menyusuri West Down Town kota Boston. Banyak gedung-gedung tua sepanjang kanan-kiri jalan yang merupakan gedung yang dibangun di jaman awal kemerdekaan Amerika atau bahkan di jaman kolonial Inggris. Suasananya tampak asri dan terawat. Pasti asyik kalau bisa jalan-jalan sepanjang jalan itu sambil menikmati makanan di salah satu resto atau cafe di pinggir jalan itu. Kami lalu berbelok ke kiri memasuki Central Down Town yang didominasi oleh gedung-gedung modern nan megah. Di situ berdiri berjajar chain hotel internasional seperti Mandarin Oriental, Sheratton, Four Season, juga gedung gereja tua Trinity Church, Boston Public Library serta butik-butik ternama seperti Hermes, La Perla, LV dan konco-konco sejenisnya. Yang juga menarik bagi saya adalah Boston Public Library yang konon adalah salah satu perpustakaan publik yang terbesar di US. Kok di Jakarta aku ndak pernah dengar soal perpustakaan publik ya. Padahal ini khan sumber informasi dan hiburan yang bisa dinikmati warga serta mencerdaskan kehidupan warganya. Setelah melewati Boston Central Park, yaitu sebuah lapangan rumput luas dan rindang, kami memasuki kawasan China Town. Di central park tersebut banyak warga dan turis berjalan kaki, bermain bola, bahkan ada yang mainan layangan besar, sekedar duduk-duduk atau pacaran. Jakarta hampir kehilangan semua taman-taman publik yang asri. Padahal taman-taman ini adalah paru-paru kota, sumber supplier oksigen bagi warga kota. Apa kalau Jokowi - Ahok menang bakalan bisa digalakkan lagi pembangunan taman-taman kota ya. Jadi orang ndak hanya berkumpul di mall. Dan yang perlu dijaga juga soal keamanannya. Saya beberapa kali nongkrong di Taman Lembang kalau sedang nunggu meeting dengan Shinta, anaknya Dr. Boenjamin Setiawan pemilik PT. Kalbe Farma. Kebetulan rumahnya tepat di depan Taman Lembang. Saya amati ndak ada satupun warga kelas atas atau menengah yang berkeliaran dan bercengkrama di taman. Isinya hanya warga kelas menengah ke bawah. Coba kalau dibuat lebih indah dan aman, pasti menjadi daya tarik bagi semua. Berikutnya kami mampir ke Quincy Market, semacam pasar tempat menjual souvenir dan pusat keramaian warga. Mungkin mirip seperti Benthan Market di Ho Chi Minh City di Vietnam atau ya seperti Passer Baroe di Jakarta. Sejam di pasar tersebut aku sama sekali ndak minat belanja dan lebih tertarik menyaksikan beberapa pertunjukkan yang digelar di pelataran kosong. Ada patung manusia yang sebenarnya adalah orang beneran yang berpose diam membatu, ada yang main sulap dan yang paking menarik adalah atraksi akrobatik yang dimainkan oleh sekitar 10 orang kulit hitam yang dikoreografi secara apik dan komunikatif. Di tengah keramaian tersebut, tiba-tiba muncul suara raungan mesin yang sangat memekakkan telinga dan asap putih mengepul dari kejauhan. Aku kaget dan sempat terdiam sejenak sambil mengamati lebih cermat apa yang terjadi. Macam-macam yang muncul di benakku, tapi yang paling dominan adalah raungan puluhan pesawat tempur yang terbang rendah dan menyemburkan asap putih. Ada juga sempat terlintas soal penembakan sporadis yang katanya terjadi di New York beberapa hari lalu. Di tengah kegalauan itu, orang-orang berlarian menuju ke jalanan. Karena belum tahu apa yang terjadi, kugenggam tangan kedua anakku dan ikutan berlari bareng kerumunan massa. Mbuh istriku ketinggalan di mana, tapi ternyata dia nyusul tepat di belakangku. Ketika suara semakin memekakkan telinga dan dibarengi dengan teriakan-teriakan yang ndak jelas artinya, aku baru mengerti, ternyata suara itu berasal dari ratusan motor balap yang konvoi di jalanan dan sengaja meraung-raungkan suara mesin motornya di tengah kemacetan sehingga menimbulkan kepulan asap putih yang membubung ke atas. Edia tenan. Di Amerika ternyata Geng Motor ndak kalah ama di Jakarta dan Bandung. Bahkan motornya jauh lebih keren. Cuman kelihatannya mereka show off aja dan tidak melakukan tindakan anarkis apa-apa. Malam ini kami makan malam dengan menu istimewa, yaitu King Lobster di salah satu restaurant Chinese di kawasan Pecinan. Masing-masing tamu mendapatkan seekor lobster besar yang rasanya menggliurkan. Tanganku sampai berdarah tertusuk duri lobster gara-gara ngupasin 4 ekor lobster buat anak-anak, bini dan diriku sendiri. Sampai ketika semua sudah pada selesai makan, aku baru selesai mengupas lobster jatahku sendiri. Gaby yang alergi udang memaksakan diri nyicipin lobster yang menurutnya enak. Akhirnya sisa lobster Gaby diembat abis ama Eugenia, yang kekenyangan sambil tepuk-tepuk perutnya. Malam ini kami tidur nyenyak di Sheratton, bukan Sheratton do Central Down Town yang saya lihat sore tadi, tapi di North Boston, kira-kira 30 menit dari kota Boston. Hotelnya cukup mewah, standard bintang 4 dengan kamar yang bersih dan luas, walaupun terletak jauh dari kota.>

Post Top Ad

Pastiin Dulu